SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP 2007/2008
Mata Kuliah : Komputer dan Masyarakat
Nama : HAMDANI
N.I.M : 07.01.171
Kelas : TI4F
Tema: Komunitas berbasis Teknologi Informasi
Jelaskan hal-hal yang melingkupi pembahasan Komunitas berbasis Teknologi Informasi, berikan contoh kasus penerapan tema tersebut di tempat Anda bekerja (dengan memberikan pengantar mengenai pekerjaan dan tempat Anda bekerja) jika tidak ada dapat menggunakan contoh kasus lain. Buat analisanya menurut Anda!
ass
JAWABAN
Dalam komunitas berbasis it hal-hal yang dibahas antara lain
1. perkembangan teknologi
didalam komunitas biasanya mereka membahas tentang perkembangan teknologi karena mereka merupakan kumpulan yang sangat peduli akan perkembangan teknologi
2. pengetahuan tentang teknologi
dalam komunitas ini mereka juga berbagi pengetahuan personal para anggotanya dalam bentuk artikel,jadi mereka saling bertukar pengetahuan tentang it kepada sesama anggota agar yang tidak tau menjadi tau
3. berdiskusi mengenai TI
dalam komunitas ini mereka mempunyai jadwal kegiatan untuk para anggotanya,dalam kegiatan itu mereka melakukan banyak hal salah satunya berdiskusi,disi mereka dapat mengeluarkan berbagai pendapat,
ibu dapat melihatnya di:
• http://forum.detikinet.com/showthread.php?t=18210
• http://itcommunity.blogsome.com/2007/06/
diatas merupakan situs komunitas it diindonesia
saya tidak memberikan contoh kasus penerapannya ditempat saya bekerja tetapi saya memberi contoh lain berikut ini penerapannya yang saya dapat dari internet dan juga analisa saya pada bagian bawah artikel2 ini
penerapan teknologi
• Pemanfaatan Teknologi Informasi Berbasis Komunitas untuk Pengentasan Kemiskinan
• Industri berbasis teknologi
• Nirkabel Pribadi: Menuju Teknologi Periferal Berbasis Komunitas
Pemanfaatan Teknologi Informasi Berbasis Komunitas untuk Pengentasan Kemiskinan
Di sebuah desa yang terpencil, jauh dari keramaian kota yang hiruk pikuk, tak seorang pun mengira bahwa di sana berdiri sebuah sekolah yang siswa-siswinya sudah akrab berinteraksi dengan lingkungan global. Nama sekolah itu SMP Alternatif Qaryah Thayyibah, sebuah sekolah berbasis komunitas yang didirikan oleh para petani di daerah tersebut. Sejak dini para siswa di sekolah itu diperkenalkan dengan bahasa inggris, komputer, dan Internet. Dengan demikian, mereka memiliki akses yang tidak terbatas pada sumber-sumber pengetahuan yang berkualitas dari seluruh dunia. Yang menarik, para siswa itu bukan berasal dari keluarga yang mampu. Mereka semua adalah anak para petani di daerah tersebut yang berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anaknya, meskipun dana yang mereka miliki sangat terbatas.
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah, yang terletak di Kelurahan Kalibening, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, adalah sebuah contoh yang menarik tentang pemanfaatan teknologi informasi untuk menyediakan pendidikan berkualitas bagi masyarakat dengan berbagai kekurangan akan sarana dan fasilitas yang memadai. Seiring dengan perkembangan di bidang teknologi informasi, upaya-upaya untuk pemanfaatan teknologi tersebut bagi pengembangan ekonomi masyarakat kecil dan upaya pengentasan kemiskinan pun semakin ramai. Berbagai studi dan praktek di beberapa negara berkembang menunjukkan bahwa upaya-upaya tersebut merupakan pendekatan yang cukup efektif, terutama bagi masyarakat di daerah pedesaan. Esai ini secara khusus akan memberikan gambaran tentang bagaimana teknologi informasi dapat digunakan untuk mengentaskan kemiskinan.
Memahami kemiskinan
Hidup miskin berarti kekurangan sumber daya yang dibutuhkan untuk berpartisipasi secara signifikan dalam sebuah masyarakat. Menurut PBB, yang diuraikan dalam Human Development Report 2000, kemiskinan terdiri dari dua macam, yaitu human poverty (kemiskinan sosial) dan income poverty (kemiskinan ekonomi). Human poverty ialah kemiskinan secara multidimensi, meliputi kehilangan (deprivation) kesempatan untuk menikmati hidup yang panjang dan sehat, kekurangan dalam pengetahuan, kekurangan terhadap standard kehidupan yang layak, dan kekurangan dalam partisipasi dalam masyarakat. Sedangkan income poverty dapat diartikan kemiskinan dalam satu dimensi saja, yaitu pendapatan. (Nancy Krieger, 2002)
Sumber kemiskinan bisa sangat dinamis. Sebagai gejala kerentanan ekonomi (economic insecurity), kemiskinan dapat timbul dari (a) risiko-risiko akibat guncangan ekonomi seperti naiknya harga-harga, penyakit, kecelakaan, dan bencana alam; (b) kemampuan warga atau kelompok warga yang terbatas untuk memulihkan diri sesudah guncangan ekonomi (Guy Standing, 2007). Oleh karena itu, program pengentasan kemiskinan pun seharusnya dinamis, sesuai dengan penyebab timbulnya kemiskinan tersebut. Dalam hal ini, cukup relevan jika dikatakan bahwa kemiskinan, selain dapat merupakan pengalaman yang bersifat sementara dan kronis, dapat pula menjadi takdir hidup yang bersifat permanen bagi seseorang.
Upaya Pengentasan Kemiskinan
Untuk kemiskinan yang sifatnya sementara, program pengentasannya dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebelum dan sesudah kemiskinan itu terjadi. Pendekatan yang kedua, yaitu upaya rehabilitasi atau penyembuhan masyarakat dari kemiskinan, merupakan pendekatan yang populer dilakukan di Indonesia. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari sumbangan-sumbangan, bantuan sosial, program jaminan sosial, dan sebagainya. Pendekatan yang pertama dapat dilakukan dengan mengembangkan kebijakan yang pro masyarakat miskin, misalnya dalam penentuan pajak dan anggaran belanja sosial. Faktanya, kekayaan yang dapat dimiliki seseorang, baik berupa materi, status sosial, maupun potensi internal pribadinya, seperti kesehatan dan talenta, tidak tersebar secara merata dalam kehidupan masyarakat. Adalah tanggung jawab pemerintah untuk memelihara keseimbangan di dalam kehidupan masyarakat melalui kebijakan-kebijakannya, sehingga kesenjangan sosial tersebut semakin menyempit.
Untuk bentuk kemiskinan yang kedua, karena sifatnya yang permanen dan sering terjadi secara turun temurun, maka pendekatan yang dilakukan tidaklah sama. Orang yang telah terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang permanen akan sulit untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut karena prospek hidupnya akan relatif inferior dibandingkan lingkungan sosialnya. Efek yang saling memperkuat dari gejala-gejala kemiskinan—pendidikan rendah, kualitas kesehatan yang buruk, dan lingkungan sosial yang tidak ramah—akan terus mengelilinginya, sehingga ia semakin sulit untuk menaikkan kualitas kehidupannya.
Satu-satunya cara yang paling efektif untuk meningkatkan taraf hidupnya ialah melalui pendidikan. Pendidikan di sini bukan hanya sebatas mengikuti program wajib belajar atau menjadi siswa di lembaga-lembaga pendidikan formal, mengingat biaya pendidikan formal yang berkualitas saat ini sangat tinggi, sehingga sulit dicapai oleh masyarakat miskin pada umumnya. Pendidikan di sini diartikan sebagai segala upaya pemberdayaan potensi-potensi yang dimiliki oleh masyarakat, sehingga membuatnya mampu untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup, antara lain memenuhi kebutuhan hidup, memperoleh rasa aman, dan berpartisipasi lebih dalam lingkungan sosial. Upaya pemberdayaan tersebut bisa beragam, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi informasi.
Pemberdayaan masyarakat melalui IT
Perkembangan yang pesat dalam teknologi informasi telah mendorong sejumlah inisiatif yang bertujuan untuk membuka akses yang seluas-luasnya terhadap berbagai sumber informasi, pengetahuan, dan materi pembelajaran berkualitas tinggi yang tersedia secara online. Misalnya, Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD), melalui program Open Educational Resources (OER)-nya, telah berhasil menyediakan materi-materi pembelajaran yang dapat diakses oleh seluruh pengguna Internet di dunia.
Program ini sangat berarti bagi para pengajar, para siswa, dan para pelajar mandiri, terutama yang berada di negara-negara berkembang. Mereka dapat menggunakannya secara langsung atau melakukan local adaptation agar dapat secara tepat memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah yang mereka hadapi. Dengan memanfaatkan berbagai sumber daya tersebut, masyarakat yang tidak mampu meraih pendidikan formal di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi tetap dapat memperoleh materi pembelajaran yang berkualitas yang dibutuhkan bagi pengembangan dirinya.
Hal ini hanya bisa terjadi, tentu saja jika masyarakat tersebut memperoleh akses yang memadai terhadap Internet atau terhadap teknologi lainnya secara umum. Padahal, di satu sisi mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Bahkan, cara belajar seperti ini mungkin tidak pernah terpikirkan sama sekali oleh mereka karena kesibukan harian yang menyita waktu mereka. Selain itu, bagi negara-negara berkembang, termasuk negara kita, masalah infrastuktur selalu menjadi perhatian yang utama. Infrastruktur yang belum memadai dan belum tersebar merata masih menjadi kendala bagi akses terbuka terhadap beragai sumber pembelajaran tersebut.
Namun, menurut Prof. Amartya Sen—peraih Nobel dari India—, yang lebih relevan dalam upaya pengentasan kemiskinan justru bukan masalah infrastruktur fisik—misalnya jalan, energi, atau perangkat keras komputer—, melainkan layanan infrastruktur (infrastructure services) yang mencakup manfaat sosial dan ekonomis yang dapat dirasakan dari infrastruktur tersebut. Infrastruktur dapat bersifat luas, besar, bahkan melingkupi satu negara, tetapi ia juga bisa bersifat kecil, lokal, dan berbasis komunitas. Keuntungan yang dapat dirasakan oleh masyarakat miskin dari jenis infrastruktur yang pertama umumnya rendah, namun infrastruktur yang yang lebih kecil dan berbasis komunitas dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi mereka. Selain itu, masyarakat miskin bukan hanya perlu mendapatkan manfaat dari infrastruktur, melainkan mereka juga sebaiknya dapat berpartisipasi dalam pengembangan dan pengoperasian layanan yang diberikan oleh infrastruktur tersebut. Untuk hal ini, infrastruktur skala kecil dan berbasis komunitas adalah solusi yang tepat.
SMP Qaryah Thayyibah yang menjadi pembuka esai ini merupakan contoh yang baik tentang pemanfaatan layanan infrastuktur tersebut. Dengan bantuan penyedia jasa layanan Internet lokal, Kepala Desa Kalibening, bersama-sama masyarakat membangun sekolah untuk anak-anak mereka. Dengan konsep home schooling dan pembelajaran natural, mereka dapat menghasilkan siswa-siswi dengan kualitas setara dengan lulusan sekolah formal unggulan.
Pemanfaatan teknologi yang berbasis komunitas juga dapat diperluas pada bidang-bidang lainnya, tidak hanya dalam pendidikan. Misalnya, dengan pemanfaatan eCommerce, para pengusaha lokal, para petani, dan para peternak dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan memasarkan produk mereka secara langsung lewat Internet, tidak perlu melalui para tengkulak maupun distributor lokal yang memerlukan biaya tinggi. Program-program keterampilan (skill) berbasis teknologi informasi juga dapat diadakan untuk membekali para pemuda dengan kemampuan yang dapat dimanfaatkannya untuk memperoleh penghasilan. Berbagai upaya lainnya masih dapat dikembangkan, sesuai dengan potensi dan keadaan masing-masing komunitas.
Perubahan mendasar yang diperlukan bagi setiap upaya pengentasan kemiskinan ialah perubahan pola pikir (mindset). Masyarakat miskin harus diberi pengertian bahwa mereka punya kemampuan untuk melepaskan diri dari kemiskinan. SMP Qaryah Thayyibah, juga program Grameen Bank yang terkenal di Bangladesh, berhasil mengubah pola pikir masyarakat, sehingga mereka mampu mengatasi persoalan mereka dengan tangan mereka sendiri. Teknologi informasi merupakan perangkat yang tepat bagi usaha tersebut, yaitu usaha-usaha untuk membuka mata setiap orang terhadap luasnya peluang untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan.
III. Pariwisata berbasis TI (Sistem Informasi Manajemen Pariwisata)
Dunia pariwisata merupakan salah satu bidang garapan pemerintah daerah. Dalam mengembangkannya, pemerintah daerah perlu mengimplementasikan e-government untuk mempublikasikan/memasarkan potensi wisata yang ada di daerah. Berbasis TI dalam hal ini berarti adanya suatu Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang berbasis pada pengolahan data elektronik.
Sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat maka kebutuhan untuk berlibur meningkat. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan informasi tentang tujuan wisata, objek wisata yang menarik, sarana yang tersedia, seperti transportasi untuk mencapai tujuan wisata dan produk wisata yang diminati. Untuk memperoleh informasi tersebut, wisatawan sering mengalami kesulitan karena tidak mengetahui di mana dan pada siapa harus meminta informasi. Singkatnya, kebutuhan informasi di bidang pariwisata meningkat dan perlu disiapkan dengan rapi dan terstruktur agar dapat diakses dengan mudah.
Selain wisatawan yang membutuhkan informasi yang lengkap, akurat, dan mudah didapat, pihak lain yang juga membutuhkan data dan informasi tersebut adalah pihak pengelola industri pariwisata dan pemerintah—sebagai pihak pengambil keputusan dan penentu kebijakan di bidang pariwisata. Namun, penekanan kebutuhan data dan informasi bagi masing-masing pihak berbeda. Jika bagi wisatawan adalah untuk memudahkan mereka menentukan rencana perjalanan wisatanya, sementara bagi industri pariwisata dan pemerintah adalah bahwa adanya sistem informasi yang baik sangat membantu mereka untuk tujuan pengambilan keputusan. Suatu SIM dapat membantu baik pemerintah maupun industri/pelaku pariwisata.
Sejalan dengan keinginan pemerintah untuk memajukan industri pariwisata, tentunya ada keinginan besar untuk menata informasi data pariwisata sebaik-baiknya agar masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh dengan cepat, akurat, dan dapat disebarluaskan secara mudah pula. Ada berbagai cara untuk penataan informasi tersebut. Kalau zaman dulu informasi disebarluaskan dari mulut ke mulut, kemudian melalui radio, surat kabar, televisi, dan media informasi lainnya, maka sekarang ini dengan kemajuan di bidang teknologi informasi ada beberapa sarana baru yang lebih mempercepat penyebarluasan informasi.
Secara umum, saat ini SIM merupakan kebutuhan setiap organisasi. Hal ini disebabkan karena data yang disimpan suatu organisasi harus selalu diperbaharui dan ditambah, sehingga keberadaannya dapat membantu dalam memberikan keputusan dengan cepat. Untuk bidang pariwisata, SIM dapat digunakan untuk mengelola data yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan, industri pariwisata, maupun pemerintah. Data pariwisata yang banyak dan selalu bertambah membutuhkan pengelolaan yang tepat. SIM punya kemampuan untuk membantu dalam mengambil keputusan, dan juga menyediakan informasi bagi pengguna data dan informasi pariwisata. Keberadaan SIM yang terintegrasi dengan baik, disertai dengan dukungan sistem komputer, akan sangat membantu pengelolaan data pariwisata.
Di samping kesiapan dari sistem pengelola data, orang yang membangun struktur sistem informasi ini harus benar-benar mengerti kebutuhan pengguna data tersebut, karena informasi pariwisata memiliki karakteristik data yang sangat beragam—seperti obyek dan daya tarik, data hotel, data sarana transportasi, dan data-data fasilitas lain, hingga ke data statistik, seperti jumlah wisatawan dan pemandu wisatanya—yang kesemuanya perlu dikelola secara terintegrasi. Data-data ini juga sangat dinamis, sehingga kompleks dalam pemilahannya, serta harus diperhatikan masalah keakuratan atau kebenaran datanya. Kegunaan dari setiap data juga harus diperhatikan berdasarkan segmen pasar penggunanya.
IV. Website Pariwisata
Pemanfaatan internet di dunia pariwisata dalam bentuk website/portal sangat beragam mulai dari sekedar pemberian layanan informasi dan promosi sampai layanan yang lebih kompleks, misalnya: reservasi online (hotel, paket wisata, transportasi, dan lain-lain), sistem pembayaran online, pengelolaan database pariwisata daerah, dan proses interaksi serta transaksi lainnya.
Beberapa hal dari pemanfaatan internet untuk pariwisata antara lain:
1. Komunikasi tidak mengenal batas ruang dan waktu, misal: orang Amerika yang ingin mencari informasi obyek wisata dan akomodasi di suatu daerah tertentu di Indonesia.
2. Akses yang mudah karena dapat dilakukan dari rumah.
3. Menyediakan informasi sedetail mungkin: harga, lokasi, informasi sekitar, cuaca, atraksi, events, secara interaktif dan up to date.
4. Jangkauan yang sangat luas ke seluruh dunia dan murah.
5. Melawan ”bad publicity” tentang Indonesia, misal: Indonesia dianggap tempat teroris dan kerusuhan sehingga orang takut berkunjung.
6. Menambah kredibilitas suatu organisasi karena memiliki e-mail dan website.
Kehadiran internet, terutama tersedianya website/portal pariwisata yang handal, lengkap, dan interaktif, tentu sangat mendukung promosi tujuan wisata yang ada di suatu daerah, sebagai contoh: sebuah website pariwisata milik suatu pemerintah daerah (pemda) memuat suatu promosi perjalanan wisata ke daerah yang meliputi:
• Lokasi obyek wisata (di mana dan apa saja yang bisa dilihat).
• Waktu yang dibutuhkan.
• Perkiraan biaya.
• Pendukung yang terkait (hotel, restoran, toko souvenir, sarana hiburan, atraksi wisata).
• Saran souvenir yang perlu dibeli.
• Budaya lokal (adat istiadat, bahasa, kesenian, dan lain-lain).
Teknologi yang tersedia harus dipilih dengan tepat, terutama menyangkut jenis layanan wisata yang ditampilkan. Untuk sekedar publikasi, cukuplah sebuah website yang memuat informasi pariwisata di sebuah daerah, berupa gambar/foto-foto dan narasi serta informasi yang diberikan masih bersifat satu arah, hanya berisi penjelasan supaya masyarakat mengetahui (web presence).
Sedangkan untuk layanan yang lebih kompleks dan rumit diperlukan teknologi yang lebih “advance”, misalnya: diperlukan adanya website yang interaktif dengan animasi flash, gambar dan link yang lengkap, sehingga calon customer bisa meminta suatu penjelasan secara lebih detail. Perlu ditambah pula menu semacam, jadwal trayek atau peta jalan interaktif, sehingga memudahkan calon customer untuk bisa sampai di suatu tempat. Perlu dipikirkan pula menu transaksi yang harus ada misalnya: reservasi hotel, nilai tukar mata uang, kamus, waktu/jam, pembayaran online, layanan sms interaktif, interaktif voice response/call center, dan lain-lain.
INDUSTRI BERBASIS TEKNOLOGI
Pada era 80-an, di saat negara berkembang di ASEAN masih disibukkan dengan konflik dalam negeri, Indonesia sudah memulai terobosan awal dalam pengembangan SDM (HRD). Terobosan ini berupa pengiriman karya siswa berbakat dalam perjanjian tugas belajar keluar negeri. Diantaranya adalah program OFP (Overseas Fellowship Program), STMDP (Science and Technology for Man Power Development Program, maupun STAID (Science and Technology Advance for Industrial Development). Dalam rentang lebih dari 15 tahun.
Meskipun langkah ini masih dalam lingkup agreement dengan Bank Dunia yang mengucurkan soft loan, tetapi perlu diakui peran B. J. Habibie sangat besar. Paradigma teknologi yang diusung oleh Habibie saat itu adalah "bermula dari yang akhir, berakhir dari yang awal". Maknanya adalah melakukan investasi untuk teknologi mutakhir yang sumbernya ada di luar negeri untuk diambil, dibawa dan dialihkan untuk kepentingan pengembangan teknologi nasional, sehingga teknologi nasional yang berbasis teknologi mutakhir tersebut bisa memenuhi standar mutu teknologi internasional dan sanggup bersaing di dunia global.
Menurut penulis, paradigma di atas seharusnya sudah mulai bisa dirasakan hasilnya awal dekade 2000 ini. Akan tetapi ternyata bunga yang ditunggu-tunggu tidak kunjung mekar karena ternyata terlalu banyak kumbang yang datang menghampirinya. Hal ini disebabkan, pertama adalah saat awal pencetusan paradigma teknologi itu, Habibie gagal mensosialisasikan proyek nasional tersebut secara luas dan terbuka.
Ini terbukti, ternyata ganjalan investasi teknologi itu muncul dari kalangan ekonom nasional dengan dalih investasi teknologi adalah langkah yang tidak ekonomis karena hasilnya tidak ada, paling tidak sampai sekarang ini. Sehingga belakangan muncul reaksi berlebihan terhadap salah satu produk teknologi mutakhir nasional yaitu PTDI. Meskipun tidak bisa dikesampingkan peran luar negeri dalam penggebosan PTDI cukup signifikan, tetapi in vitro kebijakan nasional untuk itu telah terputus.
Sementara itu, di kalangan teknolog baik dari lingkungan perguruan tinggi maupun lembaga penelitian nasional, bisa memahami proyek mercusuar ini dengan baik. Sehingga dua instansi tersebut memberikan back-up berupa kerja sama pengembangan teknologi nasional dan berlomba mengirimkan peneliti terbaiknya untuk tujuan "mencuri teknologi" dan mengalihkan ke kepentingan nasional.
Alih Teknologi Vs Mencuri Teknologi
Pengiriman karyasiswa dengan tujuan untuk "mencuri teknologi" hampir bisa dikatakan sesuatu yang mustahil. Ini ditengarai dengan kenyataan, bahwa di bawah kontrak beasiswa ikatan dinas, karya siswa yang sudah menyelesaikan studi diharuskan segera pulang. Adalah sangat memudahkan permasalahan, di mana di satu sisi berkeinginan untuk mencuri teknologi tetapi di sisi lainnya kegiatan "mencuri" tersebut dibatasi umur tugas studi.
Pengalaman beberapa negara dalam kegiatan mencuri teknologi ini adalah dengan memberikan ticket kepada warganya untuk beraktifitas penuh di industri dan teknologi hulu untuk kemudian di bawa pulang ke negara asal. Taiwan, sebuah negara kecil dengan penduduk tidak lebih dari 22 juta bisa membangun industri dalam negeri berbasis high-tech. Bahkan Amerika dan Japan harus mengakui keunggulan microchip dan memory buatan Taiwan.
Termasuk juga Korea, yang memulai industri mobil jauh setelah Jepang menanamkan saham untuk memproduksi (body assembly) mobil di Indonesia. Ternyata sekarang justru mobil produk Korea turut menghiasi jalan-jalan di Ibukota. Dan juga contoh lain seperti Pakistan, yang berhasil mengembangkan teknologi nuklir pertama dan terkuat di negara Islam sampai saat ini.
Di dalam mengembangakan hitech nasional, berbalikan dengan kegiatan mencuri teknologi seperti di atas, adalah alih teknologi dengan mendatangkan teknologi dari sumbernya. Caranya adalah memberi peluang dan suasana yang kondusif bagi PMA untuk investasi industri di Indonesia. Kegiatan seperti ini sudah dilakukan, bahkan pemerintah sudah menyediakan kluster industri seperti di kawasan Cibitung, Kaligawe atau daerah lainnya.
Hanya saja, semua industri tersebut di atas hanya sebagai industri berbasis produksi (production based industry). Sehingga lebih menguntungkan PMA industri, karena bisa leluasa memakai tenaga kerja produktif lokal dengan gaji murah dibanding standar UMR internasional. Indonesia akan menjadi tempat pembuangan sampah limbah industri berupa logam berat dan zat kimia berbahaya, yang sebenarnya di negara asal PMA pemakaiannya di larang. Kasus Newmont, PTFI, adalah contohnya. Di sisi lain tidak ada cipratan teknologi dari PMA industri untuk pengembangan teknologi nasional.
Kondisi seperti diatas jelas tidak menguntungkan. Beberapa hal yang bisa ditawarkan sebagai solusi adalah sbb.:
Pertama, membuat regulasi yang jelas terkait kebijakan industri dan teknologi di Indonesia. Misalnya setiap industri yang beroperasi di samping memiliki kewajiban membayar pajak yang sudah berjalan baik, tetapi juga harus memenuhi standardisasi lingkungan, operasional dan manajerial dengan ISO14001 atau Det Norske Veritas, dan standar mutu produk dengan UL, JIS, MILL atau sejenisnya.
Kedua, membuat regulasi baru agar setiap industri memberikan sharing minimal 15% dari asetnya baik berupa SDM maupun dana untuk kegiatan new developmet dan design produk dengan keharusan menyertakan tenaga kerja lokal. Sehingga ketika ada perusahaan asing yang mendirikan pabrik di Indonesia, harus memiliki komitmen paling tidak 15% staf lokal untuk kegiatan R&D dan design, baik ditempatkan di dalam negeri maupun di luar negeri tempat PMA berasal. Dengan kebijakan ini, PMA industri tidak lagi beroientasi industri untuk produksi an sich, tetapi terjadi shifting menuju industri berbasis teknologi (technology based industry), sehingga proses alih teknologi juga berjalan efektif di dalam negeri.
Beberapa keuntungan yang bisa didapat dari kebijakan industri berbasis teknologi dengan sharing SDM untuk HRD tersebut adalah pertama penyerapan tenaga kerja sarjana maupun paska sarjana baik lulusan dalam dan luar negeri bisa memiliki pengalaman untuk melakukan R&D teknologi lokal sesuai kebutuhan nasional. Kedua adalah terealisasikannya alih teknologi dari peruhaan pusat di luar negeri baik dari Jepang, Eropa maupun Amerika ke Indonesia.
Sebagai contoh, perusahaan sepeda motor vespa Piagio yang akan invest dan produksi untuk memenuhi pasar China harus menerima konsekwensi untuk membagikan 30% saham teknologinya kepada perusahaan lokal. Ini berarti diberlakukan kebijakan alih teknologi dengan dukungan regulasi yang jelas dari pemerintah China.
Ketiga, secara umum menaikkan iklim penelitian baik di instansi pemerintah seperti LIPI dan BPPT, juga di berbagai perguruan tinggi dalam koridor kerja sama R&D pada applied technology yang dibiayai oleh industri. Dengan demikian, di satu sisi lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang telah menjadi BHMN tidak kesulitan dana ketika melakukan penelitian dan di sisi lain industri tetap menerima teknologi yang terkinikan.
Beberapa kendala
Beberapa kendala yang bisa ditengarai terkait dengan alih teknologi ini adalah seperti keterbatasan kemampuan pemerintah dalam memberikan arahah kepada tiga lembaga KMNRT, Deperindag, dan perguruan tinggi dalam pegembangan ristek nasional. Arahan ini agar ketiga lembaga tersebut memiliki visi yang sama dalam pengembangan teknologi nasional.
Disamping itu juga kemampuan pemerintah dalam menelorkan peraturan pemerintah dan regulasi yang bijak sebagai political will yang mengarahkan dan mendukung misi R&D teknologi nasional yang dibuat oleh tiga lembaga tadi. Juga terbatasnya kemampuan pemerintah untuk memberikan fasilitas baik barupa fasilitas untuk meningkatkan kekuatan kluster industri maupun incubator dengan penelitian terkini.
Political will pemerintah akan terlihat dari seberapa besar APBN untuk ristek nasional. Paling tidak diperlukan sekitar 8% dari APBN untuk kegiatan pengembangan industri dan teknologi nasional di luar dana APBN untuk pendidikan. Seperti Jepang misalnya, menyisihkan budget lebih dari 7M USD atau setara dengan 64 trilyun rupiah, dan 13.4% darinya untuk riset unggulan bersaing.
Indonesia Future
Realita teknologi global adalah perkembangan teknologi yang semakin cepat sehingga sulit dikejar dengan aset nasional baik human resources maupun soft resources. Paradigma teknologi harus segera diganti dengan paradigma baru. Penulis mengibaratkan dengan dorian paradigm. Kondisi Indonesia sekarang ini ibarat buah durian. Bagi yang suka buah durian, meskipun kulitnya berbahaya karena berduri, tetap akan dibeli karena dibalik kulit itu ada daging durian yang lezat. Sekiranya kontrak kerja yang sedang berlangsung antara pemerintah dengan PMA industri tidak bisa dibatalkan, maka paling tidak pemerintah bisa memberikan tekanan kepada PMA industri dengan mengeluarkan regulasi baru berupa peraturan pemerintah maupun perundang-undangan dengan muatan 訴ndustri harus membagi teknologi・
Dengan demikian, melalui dorian paradigm ini, meskipun pada musing durian kali ini daging durian masih dinikmati oleh PMA industri, paling tidak kita masih kecripatan baunya, berupa porsi 15% teknologi tersebut. Sehingga pada musim durian berikutnya, di saat berlaku FTA dan AFTA, apa yang kita panen dari kebun durian nasional, harus bisa dinikmati sendiri, dan silahkan pihak asing sekedar mencicipi atau cukup mencium baunya saja.
Nirkabel Pribadi: Menuju Teknologi Periferal Berbasis Komunitas
Kemajuan teknologi komunikasi informasi berkembang tidak lagi terpaku pada
kemajuan teknologinya sendiri, tetapi juga pada perangkat periferal yang
berkembang semakin banyak yang memiliki tujuan berbeda-beda.
Teknologi periferal tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kualitas teknologi
komunikasi informasi, tetapi di sisi lain juga menjadi acuan untuk mencerminkan
sebuah gaya hidup modern.
Salah satu teknologi periferal yang masih berkembang dan menarik perhatian
banyak orang adalah teknologi Bluetooth yang memiliki perilaku umum untuk bisa
berkomunikasi dengan berbagai perangkat yang sekarang kita gunakan.
Kemampuan teknologi Bluetooth sekarang berkembang dengan beragam profil yang
menghubungkan berbagai perangkat teknologi komunikasi informasi, baik komputer
maupun telepon seluler (ponsel).
Teknologi Bluetooth lebih merupakan sebuah teknologi nirkabel pribadi sehingga
memiliki keterbatasan dalam jarak yang berbeda dengan teknologi nirkabel pada
standar 802.11 a/b/g. Di Indonesia, Bluetooth sendiri belum banyak digunakan
oleh khalayak ramai, dan hanya digunakan untuk menghubungkan antarponsel untuk
tukar-menukar foto atau musik di kalangan remaja.
Dalam perkembangannya, teknologi Bluetooth sekarang berkembang dengan apa yang
disebut sebagai A2DP (Advanced Audio Distribution Profile) yang mendefinisikan
bagaimana aliran audio kualitas tinggi bisa diterima oleh perangkat Bluetooth
lain, seperti ponsel atau headset nirkabel.
Yang menarik dari kehadiran teknologi Bluetooth yang terus menerus diperbarui
adalah kemampuannya untuk terkoneksi dengan beberapa perangkat secara simultan.
Artinya, teknologi Bluetooth sekarang memungkinkan, misalnya, untuk mengoneksi
beberapa ponsel ke salah satu perangkat seperti headset untuk mendengarkan
musik bersama.
Kaca spion
Perkembangan teknologi periferal Bluetooth memang memiliki dua sisi. Pertama,
diarahkan untuk menjadi alat bantu guna meningkatkan keselamatan dan
meningkatkan privasi pengguna. Lainnya, teknologi Bluetooth berkembang menjadi
sebuah teknologi komunitas, baik untuk kepentingan pribadi maupun bisnis,
berbagi informasi dan komunikasi.
Dengan demikian, tidak mengherankan jika di pasaran sekarang banyak sekali
pilihan perangkat periferal Bluetooth yang ditujukan untuk berbagai penggunaan.
Sebuah perangkat Bluetooth yang menarik adalah Seecode Vossor Plus buatan
Seecode Germany GmbH, Jerman, sebuah kaca spion mobil yang memanfaatkan secara
utuh kemajuan teknologi Bluetooth.
Seecode tidak hanya mengalihkan panggilan ponsel ke kaca spion yang dilengkapi
pengeras suara, tetapi juga mampu menampilkan nomor panggilan yang masuk
(Caller ID) yang memiliki angka 12 digit.
Penggunaannya pun mudah, tinggal menumpuk Seecode ini pada kaca spion mobil
yang sudah ada, menghidupkannya (juga dilengkapi dengan perangkat isi baterai
dari colokan pemantik mobil), melakukan sinkronisasi, dan berbicara ketika
sedang mengemudi.
Keunggulan produk Seecode ini dibandingkan dengan perangkat sejenis lainnya
adalah kemampuannya untuk sinkronisasi dengan tiga ponsel yang memiliki fitur
Bluetooth, kemampuan untuk melakukan voicedialing (kalau ada fitur sejenis pada
ponsel), serta menggunakan teknologi suara DSP (digital sound processing) yang
dioptimalkan, memungkinkan perangkat ini meredam suara-suara latar yang berasal
dari radio mobil atau suara bising lingkungan di jalanan.
Tersembunyi
Produk lain yang juga memanfaatkan kemajuan teknologi Bluetooth adalah
produk-produk seri Celleden buatan Audex Telecom Industrial Co Ltd, perusahaan
asal China. Ada dua produk Celleden yang dicoba, yakni Celleden STB-381 dan
STB-2812 Compact Stereo System.
Yang mengagumkan dari produk seri Celleden ini, ternyata industri teknologi
komunikasi informasi RRC sudah berkembang sangat pesat dan mampu mengikuti
perkembangan pasar dunia bagi kebutuhan teknologi periferal seperti Bluetooth.
Bahkan, rancang desain perangkatnya pun mampu mengikuti kebutuhan akan gaya
hidup modern dengan desain menarik dan futuristik.
Produk STB-2812 Compact Stereo System merupakan perangkat Bluetooth sistem
pengeras suara HiFi yang mampu untuk mengalirkan musik stereo. Menggunakan
empat baterai ukuran AA, perangkat ini kompatibel dengan sumber musik A2DP,
bisa menjadi pengeras suara teleponi nirkabel dengan kemampuan echo-cancelling
pada mikrofon, serta desain ringkas dengan menekan satu tombol untuk
mengeluarkan pengeras suara yang tersembunyi.
Sedangkan produk Celleden STB-381 adalah perangkat penerima aliran (transmit
streaming) suara A2DP yang digerakkan oleh tiga baterai ukuran AAA ke perangkat
penerima Bluetooth lain.
Perangkat STB-381 ini bekerja dengan mengoneksi notebook, pemutar MP3, iPod,
ataupun ponsel untuk memutar musik digital yang diterima pada pengeras suara.
Kualitas suara yang mampu dihasilkan oleh kedua produk Celleden ini memuaskan
siapa saja yang mendengarkannya, dan menjadi pilihan menarik bagi mereka yang
ingin memiliki perangkat teknologi periferal Bluetooth, baik untuk keperluan
pribadi maupun kantor, misalnya teleconference.
Teknologi komunitas
Perangkat periferal Bluetooth lain yang juga menarik adalah Bluetooth Stereo
Headset buatan Planex Communications Inc, Jepang. Dengan rancang desain sportif
berwarna putih, perangkat Bluetooth dengan teknologi A2DP ini tidak hanya
menjadikan headset untuk mendengarkan musik, tetapi juga otomatis bisa
terkoneksi ke ponsel ketika ada panggilan masuk.
Memiliki mikrofon kecil pada bagian ujung unit pendengaran sebelah kiri,
perangkat Planex ini menjadi menarik sebagai alat tambahan untuk dibawa ke
mana-mana untuk menikmati musik pilihan dengan kualitas suara stereo, serta
tetap terkoneksi ke ponsel.
Dengan berat sekitar 63 gram, Planex bisa digunakan untuk mendengarkan musik
terus-menerus selama 5 jam.
Berbagai perangkat teknologi periferal ini menunjukkan bahwa teknologi
Bluetooth tidak lagi hanya menjadi sistem nirkabel pribadi, tetapi juga
berkembang menjadi sebuah teknologi komunitas dan menjadi bagian dari gaya
hidup orang modern.
Melakukan percakapan ponsel maupun mendengarkan musik digital nirkabel tanpa
harus memegang memang menyenangkan. (RLP)
analisa
Pemanfaatan Teknologi Informasi Berbasis Komunitas untuk Pengentasan Kemiskinan
Menurut analisa saya sangat baik sekali karena jika saja teknologi dapat dimanfaatkan secara maksimal pasti akan sangat berguna karena dengan teknologi dapat membuka akses yang seluas-luasnya terhadap berbagai sumber informasi, pengetahuan, dan materi pembelajaran berkualitas tinggi yang tersedia secara online. Misalnya, Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD), melalui program Open Educational Resources (OER)-nya, telah berhasil menyediakan materi-materi pembelajaran yang dapat diakses oleh seluruh pengguna Internet di dunia.,bukankah dengan itu mutu sumber daya manusia meningkat dan dgn itu dapat memperoleh kehidupan yang layak,dan juga teknologi informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana perdagangan online,meskipun tinggal didaerah terpencil dapat memasarkan barang kemana-mana yang dapat berdampak positip bagi perekonomian juga.jadi penuntasan kemiskinan dengan IT cukup baik.
Pariwisata berbasis it
Menurut saya sangat baik karena dengan menggunakan internet pariwisata dapat diketahui oleh banyak orang di berbagai belahan dunia sehingga dapat mengundang banyak wisatawan,jadi sangat bermanfaat sekali
Demikian tugas ini saya buat
wss
Senin, 14 Juli 2008
Jumat, 20 Juni 2008
mcr buat new album
My Chemical Romance sedang mengerjakan album baru yang akan dirilis pada tahun ini. Setelah sempat memasukkan aksi teatrikal di album \'The Black Parade\', kini MCR akan kembali ke asal.
Menurut sang vokalis, Gerrard Way, dalam album ke-empat ini mereka akan kembali menampilkan musik punk rock, but bkan brarti mereka gag akan mengeksplorasi ide-ide gila. Lagu yang ada di album ini datang dari dalam hati dan membuat orang terinspirasi. Nd menurut Gerrard lagi, di album ini, bener-bener krasa nyawa rock.nya.
Menurut sang vokalis, Gerrard Way, dalam album ke-empat ini mereka akan kembali menampilkan musik punk rock, but bkan brarti mereka gag akan mengeksplorasi ide-ide gila. Lagu yang ada di album ini datang dari dalam hati dan membuat orang terinspirasi. Nd menurut Gerrard lagi, di album ini, bener-bener krasa nyawa rock.nya.
Sabtu, 26 April 2008
my chemical romance
My Chemical Romance
My Chemical Romance adalah grup musik asal New Jersey, yang dibentuk pada bulan September tahun 2001 oleh Gerard Way dan Matt Pelissier. Saat ini, band ini diawaki oleh Gerard Way (vokal), Mikey Way (bass), Ray Toro (lead guitar), Frank Iero (gitar), dan Bob Bryar (drum). Nama band ini terinspirasi oleh buku karangan Irvine Welsh yaitu Ecstasy: Three Tales of Chemical Romance.
My Chemical Romance adalah grup band yang menurut media bergenre pop punk,[1] post-hardcore,[1] "punk revival",[1] rock alternatif, dan emo. Namun grup ini mendeskripsikan musik mereka sebagai musik "rock" atau "pop yang kasar",[2] dan menolak diklasifikasikan sebagai emo.[3] Grup ini telah merilis tiga album yaitu I Brought You My Bullets, You Brought Me Your Love pada tahun 2002, Three Cheers For Sweet Revenge pada tahun 2004, dan The Black Parade pada tahun 2006.
Band ini mendapat inspirasi dari Queen, Black Flag, Iron Maiden, The Misfits, Morissey, At the Gates, Pink Floyd, The Smashing Pumpkins, Descendents, Pantera, The Cure, dan The Smiths.
My Chemical Romance adalah grup musik asal New Jersey, yang dibentuk pada bulan September tahun 2001 oleh Gerard Way dan Matt Pelissier. Saat ini, band ini diawaki oleh Gerard Way (vokal), Mikey Way (bass), Ray Toro (lead guitar), Frank Iero (gitar), dan Bob Bryar (drum). Nama band ini terinspirasi oleh buku karangan Irvine Welsh yaitu Ecstasy: Three Tales of Chemical Romance.
My Chemical Romance adalah grup band yang menurut media bergenre pop punk,[1] post-hardcore,[1] "punk revival",[1] rock alternatif, dan emo. Namun grup ini mendeskripsikan musik mereka sebagai musik "rock" atau "pop yang kasar",[2] dan menolak diklasifikasikan sebagai emo.[3] Grup ini telah merilis tiga album yaitu I Brought You My Bullets, You Brought Me Your Love pada tahun 2002, Three Cheers For Sweet Revenge pada tahun 2004, dan The Black Parade pada tahun 2006.
Band ini mendapat inspirasi dari Queen, Black Flag, Iron Maiden, The Misfits, Morissey, At the Gates, Pink Floyd, The Smashing Pumpkins, Descendents, Pantera, The Cure, dan The Smiths.
Minggu, 13 April 2008
Langganan:
Postingan (Atom)

